Senin, 15 Juli 2019

Ya Rabb. Aku Mau Dibangunin Istana Mie Sedap :D




                                                 Sumber gambar: https://kaltim.tribunnews.com


Assalamu'alaikum Sis.
I am come back to my blog :D :D

Kalian sukak gak sih makanan bermicin? kalau aku sih gak suka, tapi suka banget, haha. gurih-gurih gitu.
Tapi kata orang-orang micin itu gak baik bagi tubuh jika dikonsumsi terlalu banyak. yea kan?.
Etss sebentar, sebenarnya aku bukan mau ngebrel tentang micin, ada hal yang lebih penting dari sekedar membahas pemanja lidah. Yea kan?.

Seperti ini gaes, kita yakin kan ya kalau Tuhan kita, Alloh SWT itu Maha Esa tak beristri, tak beranak, tak berayah, tak beribu, tak bertante, dan tak ber-om, intinya tak berkeluarga.
Tapi kalian pernah juga kan dengar hadis ini  gaes?

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya.(HR. Ahmad dan Ibnu Majah.  Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Weh weh weh, ada bocoran nih gaes, ternyata Alloh mempunyai KELUARGA mereka berasal dari golongan AHLUL QUR'AN.
 Sedikit cerita ya gaes, saya pernah mendapat materi ini dalam kajian pengantar kelas Tahfidz dengan beliau Ustadzah Tika Faiza, julukannya Si Motivator Qur'an. Beliau bertanya kepada kita,

SIAPA SIH YANG DIKATAKAN  AHLUL QUR'AN itu?
Haruskah yang Hafidz 30 Juz? No. No.
Mereka adalah yang senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur'an dalam segala gerak-gerik kehidupan. Mereka yang menyediakan waktu untuk membacanya bukan yang sekedar membacanya dalam waktu-waktu luang. Mereka yang senantiasa mencoba mentaburi satu per satu kata pelan pelan penuh kesabaran menuju titik kepahaman. Mereka yang tetap menghafal walau susah melekat dalam hati dan otaknya. Terus mencoba mencoba dan mencoba sampai tidak ada kebosanan karena yakin bahwa didetik yang sama kita membaca al-Quran didetik itu pula Allah berada dekat dengan kita.

Malam itu Ustadzah juga menyampaikan tentang beberapa adab seorang penghafal al-Qur'an agar seanantiasa Alloh limpahkan kemudahan dan keberkahan.
Salah satu adabnya adalah meninggalkan makanan yang haram, syubhat, dan tidak toyyib, ya contohnya nihh biar gamblang :D jajanan cilok atau bakso yang kita tidak tahu bahan dan proses pembuatannya, contoh lain ya makanan micin kesukaan kita gaes, haha, termasuk mie instant.
"Di dunia di tahan dulu memakan-makanan yang seperti itu"
Ustadzah mengajarkan kita do'a:
"Ya Alloh, aku memang sangat senang alias doyan banget dengan mie instant, tapi aku akan mencobanya menahan dulu agar mudah hafalanku Ya Rabbi. Aku mohon kepadamu, karena kecintaanku terhadap mie instant beserta micinnya sangat dalam, maka aku mohon ya Rabb bangunkanlah aku sebuah ISTANA MIE INSTAN"
Seketika itu semua santri tertawa, terkesan do'a yang geli. haha. Tapi apa lah yang tidak mungkin bagi Alloh, terlalu mudah bagi-Nya membangun istana mie instant, apalagi itu permohonan dari KELUARGANYA, sang AHLUL QUR'AN.

Bayanganku tiba-tiba melayang, kalau hidup di istana mie sepertinya enak ya, dindingnya ditata dari tumpukan mie, kalau mau makan tinggal ambil, wah gurih. haha.

iya itu kan besok, Insyaalloh. sekarang ya ditahan minimal dikurangi.

Siap.. siap.. siap.. Allohummarhamna bil Qur'an.

Oke gaes, kalau aku memohon dibagunkan istana mie, kamu mau memohon dibangunkan apa? haha.

 Wassalamu'alaikum.

16Juli19
Bersama lapar ku rindukan gurihnya mie instan. :D
Ernatokk, Sleman


Sabtu, 26 Januari 2019


                                     Merpati yang Kehilangan Sayap Kanannya

Jalan Raya Solo masih seperti kemarin, lampu rambu lalu lintasnya juga masih sama dengan tiga warna, merah, kuning, dan hijau. Hatiku sedikit gelisah ketika harus berjumpa dengan si lampu merah, aku bakal telat. Sampai di Jalan Janti aku harus berjumpa dengan lampu yang sama, payah. Astaghfirulloh, aku menggerutu, aku menarik nafas merilekskan pikiran sambil kupandang satu per satu baleho yang berjejer di tepi jalan, ada baleho iklan film, iklan produk kecantikan, iklan hotel bahkan iklan caleg juga ada, lengkap sudah. Lampu merah sudah berubah hijau aku menarik pelan gas motorku, mencoba melaju dengan tenang.

Langit sore ini terlihat sedang galau, antara iya dan tidak, antara hujan dan terang, mendung. Hatiku berbisik pada Tuhan ku “ Ya Rabb, sore ini jangan hujan dulu, agar anak-anak berangkat ke TPA”, do’aku sedikit nakal memang. Syukurlah Alloh mengabulkan doa’ku. Langit seperti ingin mencurahkan semua air matanya tetapi tertahan atas komando Rabb-Nya, thank’s God.

Glek, sampai juga di TPA tercinta, TPA Nurul Ikhsan. Sahabat berjuangku sudah duduk manis membersamai santri yang sedang bermain, mereka Wida dan Mas Iqbal (ta’mir Masjid). Aku pikir TPA sudah dimulai dari tadi, ternyata dugaanku salah. Aku semakin dibuat kaget karena ternyata santri yang berangkat baru tiga, jujur aku kecewa, hati kecilku tertawa, santrinya 3 gurunya 3, masyaalloh serasa belajar privat.
Mau tidak mau, sedikit atau sedikit sekali santrinya, TPA harus tetap berjalan, kami memulainya dengan berdo’a dilanjutkan dengan hafalan surat pendek. Datang dua santri lagi, lumayan. 5 santri cukup membuat TPA kali ini tidak memusingkan, tidak ramai, tidak bising, dan mudah dikendalikan. Tetapi bukan ini yang aku mau.

Aku merindukan tangan-tangan yang menjulur berebut tanganku padahal aku masih di atas motor, aku rindu kartu prestasi yang dijulurkan ke aku padahal helm belum lepas dari kepala, aku rindu ketika kalian berebut memimpin do’a sebelum mengaji, aku rindu kalian yang diam-diam pergi jajan ke angkringan, aku rindu kalian bercerita tentang kejadian di sekolahan siang tadi, aku rindu kalian menceritakan segudang prestasi di sekolahan, aku rindu kalian yang tiba-tiba memelukku, aku rindu kalian yang tiba-tiba ada dipunggungku minta digendong, aku rindu kalian berebut untuk duduk dipangkuanku, aku rindu jeritan kalian ketika bermain kejar-kejaran, aku rindu ketika kalian manja tidak mau mengaji minta dirayu, aku rindu ketika kalian jahil dan bikin ramai satu TPA, ahh, aku rindu. Dimana kalian?. Apakah sudah melebur dengan robot game online?, semoga belum.

Hari ini aku belajar bersyukur, ternyata TPA Nurul Ikhsan yang dulu, TPA yang santrinya suka ramai, santrinya suka bikin onar, santrinya suka kabur ke angkringan, santrinya suka berkelahi, dan hal lain sebagainya itu adalah sebagian dari kebahagiaanku, nyatanya dengan segala kondisi sekaraang yang begitu damai dan santrinya mudah diatur justru memudarkan kebahagiaanku karena aku kehilangan santri yang lain.
Ini bukan hal yang terjadi secara tiba-tiba, jumlah santri semakin berkurang sudah terjadi selama 1 bulan terakhir ini, segala upaya untuk menciptakan pembelajaran yang menarik sudah dilakukan, dari memberikan penghargaan kepada santri terrajin sampai program taman gizi, tapi gagal, kebanyakan santri berangkat ketika ada taman gizi saja, kalau orang bisnis bilang, ini salah strategi.

Sebagian mereka lebih memilih bermain HP dari pada harus mengaji ke TPA. Banyak alasan yang dilontarkan, misalnya pulang sekolah sudah sore jadi capai kalau harus berangkat ke TPA juga. Jujur aku kecewa, aku pikir, seharusnya ada sistem yang rapi, harus ada kerja sama antara pengurus TPA dan wali santri, bagaimana pun apa yang dilakukan kita (pengurus TPA) divisikan untuk kecakapan mereka dalam ilmu agama, terutama membaca al-Qur’an. Bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya main lalu lalang sampai maghrib tanpa kejelasan tujuan, bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya bermaiBagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya main lalu lalang sampai maghrib tanpa kejelasan tujuan, bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya bermain HP berjam-jam tanpa mengetahui apa yang mereka akses, bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya terbata-bata dalam membaca kalam mulia, kalam Ilahi?.

Hati kecilku merintih, terasa tidak ada lagi energi, aku sempat berfikir “Kenapa harus berjuang memperjuangkan diri orang lain yang mereka saja tidak memperjuangkan dirinya?”. Hem, tapi aku sadar dan membenarkan apa yang disampaikan Ustadz, jalan dakwah itu terjal dan menyakitkan karena yang enak itu di surga, haha.
Aku kembali berfikir, jika sekolahan dalam artian disini adalah TPA dikiaskan sebagai burung merpati, maka sayap kanannya adalah wali murid/santri sedangkan sayap kirinya adalah guru. Jika sayap kanan patah, sekuat apapun sayap kiri mengepak ia akan tetap jatuh. Lantas jika TPA/sekolah tanpa ada dukungan dari wali santri/murid apakah burung merpati akan tetap terbang hanya dengan satu sayap?, tidak, ia akan jatuh lagi.

Maguwoharjo,23 Januari 2019
Malam ketika aku mencoba mengais enegi untuk merekatkan sayap kanan.
Erna Tokk


Selasa, 28 Agustus 2018

KISAH CINTA KELUARGA IBRAHIM

Sumber gambar klik disini
 


Hallo gaes, kali ini aku pengin coretanku bernuansa Islami, materinya aku dapatkan dari kajian bersama Ustadzah Tika Faiza, S.Psi, sedikit info ya gaes beliau adalah alumni PPMi Asma Amanina dan sekarang mendapat amanah menjadi musyrifah Rumah Qur'an Inspirasi. Tau gak sih kalian gaes beliau itu mendapat sebutan "motivator Qur'an" masyaalloh bukan?.

Oke, langsung aja ya kita masuk ke materinya.
Pada umur berapa tahun ya gaes Nabi Ibrabim AS dianugerahi putra? Yap benar sekali, umur 99 tahun. Coba gaes bayangin betapa lama penantian beliau menunggu kehadiran buah hati sampai seluruh rambutnya berubah menjadi putih, kulitnya keriput dan badannya sudah tidak lagi berdiri tegap. Tapi gaes, inilah rencana Allah yang begitu indah dan akan terus berlanjut dengan kisah-kisah yang tak kalah indah.

Betapa bahagianya Nabi Ibrahim AS meminang putranya yang sangat dinantikannya. Eh by the way, siapa ya putra Nabi Ibrahim AS? yap benar sekali, Nabi Ismail AS.

Pada suata waktu, Nabi Ibrahim membawa istri beserta putranya ke Mekah perjalanan start dari Palestina, mantap betul kan gaes mereka jalan kaki menempuh jarak yang amat jauh. Namun seketika Nabi Ibrahim AS putar arah, bukan melangkah ke arah Mekah melainkan pulang lagi ke Palestina. Istrinya (Bunda Hajar) memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Nabi Ibrahim AS. (Kita rehat dulu ya gaes, coba bayangkan bagaimana perasaan Bunda Hajar, ditinggal suami tercinta, ditempat gersang tidak ada air setetes pun, bagimana beliau akan mengasih minum kepada bayi merahnya, Ismail AS?,)

Bunda Hajar masih berusaha memanggil suaminya walaupun bayangannya semakin menjauh. " Wahai Ibrahim, kenapa Kau tinggalkan kami? ", namun Nabi Ibrahim tetap saja tidak merespon pertanyaanya, kemudian Bunda Hajar merubah pertanyaanya " Wahai Ibrahim, meninggalkan kami disini apakah perintah dari Allah?", Nabi Ibrahim menjawab "Iya" sambil melanjutkan langkahnya menuju Palestina.

Bagaimana respon Bunda Hajar, apakah dia bertanya-tanya lagi atau bahkan membrontak?. Tidak gaes, Bunda Hajar adalah wanita bijak, ia meng'iya'kan apa yang terjadi pada diri dan putranya, karena beliau paham ini adalah perintah Allah dan yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim, hati ayah mana yang tidak bergejolak meninggalkan istri dan anak tercinta, langkah Nabi Ibrahim AS semakin menjauh, ditemani tangis dan sedih tentunya. Tapi gaes, Nabi Ibrahim gak seperti kita yang ditinggal pergi kekasih aja galaunya minta ampun sampai gak mau makan (padahal laper banget :D, haha iya kan?) Nabi Ibrahim AS  DAN Bunda Hajar adalah pasangan yang cerdas, menanamkan cinta atas logika hati bukan logika pikiran (begitu kata Ustadzah Tika Faiza). Keduanya menanamkan cinta kepada sang Pencipta di atas cinta kepada selainya, cinta pertamanya diberikan kepada Allah SWT maka cintanya untuk manusia tidak pernah berujung menyakiti.

Oke gaes, apakah hanya sampai disini saja cobaan cinta Nabi Ibrahim dan keluarganya?
Temukan jawabannya di episode berikutnya, hehe. Insyaalloh akan dipublikasikan di blog yang sama.

Terimakasih sudah menyempatkan mengunjungi blog ini, teman-teman yang mau memberi saran atau request materi boleh kirim pesan ke aku ya di ernaazzam1212@gmail.com

Oke gaes sampai jumpa di episode berikutnya.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Yogyakarta, 29 Agustus 2018
Erna Tokk^^

Selasa, 24 Juli 2018

Rumah Cahaya, Asma Amanina (CerBung)



Menerobos Lampu Jalan

Related image

Sumber gambar klik disini

Aku rasa semua pengendara jalan Ringroud Utara melesat dengan kecepatan mendekati garis maksimal, kecuali aku. Lampu penerang jalan telah nyala menandakan hari semakin malam, kolaborasi suara klakson motor beradu dengan lantunan adzan Maghrib berhasil membuat jantungku berdegup tak beraturan. Kali ini aku harus melaju lebih kencang dan sesekali mengintip kaca spion untuk memberi jalan ketika pengendara lain akan mendahuluiku, terasa motorku akan terseret terbawa angin yang mengikuti motornya.

Gelisah dan gugup yang tidak terkendali membuatku tidak sadar jika gapura menuju Jalan Tasura telah terlewati, ini tandanya aku harus mencari jalan putar balik
, tetapi ini cukup memakan banyak waktu, dan akhirnya aku putuskan untuk melewati tepi-tepi jalan Ringroud Utara, terlihat sangat bodoh memang karena aku harus melawan arus.. hehe.

Tepat di depan gerbang Asma Amanina mesin motor aku matikan, ini sebagian adab sopan santun yang diajarkan di pondok kami. Aku tuntun sepeda motorku melewati lorong parkiran Asma, kucepatkan derap langkah tetapi jangan keluarkan bunyi, karena aku tahu sore ini aku benar-benar terlambat. Tetapi aku harus bersyukur, aku beruntung, terdengar lantunan merdu surah al-Bayyinah dari seorang imam shalat Maghrib, ini tandanya teman-teman dan Ammah Musrifah (Pemandu) sedang sholat, aku segera berlari ke kamar mencari keadaan aman sebelum ada mata yang melihat aku terlambat…. Hehe.
Yess.. gua lolos





24 Juli 2018
Sore menjelang Ashar dalam kedamaian Rumah Cahaya

Erna Tokk